Sungguh tega ulah pembeli yang membeli jagung ke nenek tua dan membayarnya dengan uang mainan. Peristiwa ini viral di medsos setelah diposting akun Facebook Berita Pontianak hari Senin (2/12/2019).

Teganya Bayar Jagung Dengan Uang Mainan Rp 100 Ribu, Nenek Ini Pun Menangis, Pelakunya Bakal Dihukum Berat
Teganya Bayar Jagung Dengan Uang Mainan Rp 100 Ribu, Nenek Ini Pun Menangis, Pelakunya Bakal Dihukum Berat

Nenek itu diketahui memang  sering menjual jagung keliling di daerah Jl.Dharma Putra  Kec. Siantan Pontianak Utara. Dengan berdasarkan foto tersebut  yang telah diposting, terlihat seorang nenek sedang membawa jagung dan menggunakan baskom warna biru juga bersama beberapa jagung.

Juga terlihat uang mainan 100 ribu yang terletak di dalam baskom. Setelah sadar jika  dirinya ditipu, nenek itu kemudian menangis dikarenakan jagung dagangannya tinggal tersisa sedikit.

Untuk sementara uang hasil penjualan jagung dari hasil sebelumnya telah habis untuk menggantikan  uang  Rp 100 ribu mainan yang didapat dari seorang pemuda. Dan disebutkan juga jika kondisi penglihatan nenek memang agak kurang  baik sehingga tidak cepat mengetahui jika dirinya menjadi korban penipuan.

Hingga berita ini ditulis, pemuda yang membayar dengan uang mainan belum ditangkap. Jika pemuda tersebut ditangkap, maka ia akan menghadapi hukuman berat karena telah melanggar Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Uang rupiah diproduksi Badan Usaha Milik Negara Perusahaan Umum Percetakan Uang  Republik Indonesia (Perum Peruri). Ada dua bentuk uang yang diproduksi, yakni uang logam juga uang kertas bersama nominal-nominal tertentu.

Tetapi, di luar uang asli yang diproduksi pemerintah, ada dua jenis uang lain yang juga beredar di tengah masyarakat, yaitu uang palsu dan uang mainan. Ketentuan uang mainan berbeda sama uang palsu, tetapi sama-sama tidak benar jika digunakan sebagai alat transaksi.

Dan menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, uang mainan yang dimaksud adalah kategori “rupiah tiruan”.

Berdasarkan ketentuan yang telah disebutkan dalam Undang-Undang Mata Uang, Rupiah tiruan adalah  bahan,  warna, ukuran, gambar, atau desainnya menyerupai rupiah yang dibuat, dicetak, dibentuk,  diedarkan, atau digandakan tidak digunakan sebagai alat pembayaran merendahkan kehormatan rupiah yang merupakan sebagai simbol lambang negara.

Dalam ayat pertama Pasal 24 Undang-Undang Mata Uang, disebutkan apabila  dilarang untuk  meniru rupiah, tetapi kecuali tujuannya pendidikan atau juga promosi dengan memberi kata dalam uang spesimen pada uang tersebut. Kemudian pada selanjutnya, dilarang menyebarkan dan mengedarkan rupiah palsu/tiruan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *